Senin, 02 Mei 2016

Konflik Captain America: Civil War Berawal dari Insiden Ini

Actor Civil War
Sementara konflik antara Captain America dan Iron Man dalam Captain America: Civil War sudah diumumkan, namun penyebab utamanya masih dirahasiakan oleh Marvel Studios. Akan tetapi, sebuah sumber belakangan telah menyebarkannya.

Menurut Comicbook.com, Selasa (11/8/2015), bocoran penyebab konflik di film ketiga Captain America ini, pertama kali disebarkan oleh laman Heroic Hollywood.

Laman tersebut menjabarkan kalau salah satu insiden internasional yang membawa kepada tragedi berdarah Sokovia Accords, menjadi penyebab konflik utama di film Civil War. Kutipan artikel menyebutkan sebagai berikut:

"Rumornya, menurut sumber terpercaya, insiden internasional dalam film yang melibatkan Avengers hingga menghasilkan kerusakan parah yang melibatkan Captain America dan Scarlet Witch saat mencoba untuk menangkap Crossbones.

"Satu-satunya masalah adalah Crossbones mengenakan rompi bunuh diri yang berisi penuh bahan peledak besar. Demi melindungi warga sipil, Captain America memerintahkan Scarlet Witch untuk membuat Crossbones melayang di atas tanah.

"Ia melakukannya dan sayangnya tidak dapat menahan ledakan besar yang dipicu di dekat sebuah bangunan penduduk hingga menyebabkan kematian dan kehancuran."

Bagi fans komik, Crossbones bisa dianggap sebagai pengganti New Warriors dari komik sebagai pemicu insiden dalam kisah Civil War versi film ini. Namun itu pun kalau rumor ini benar-benar ada di tangan kru dan pihak studio.

Walaupun ada bau spoiler dari adegan tersebut, namun dasar cerita seperti itu boleh dibilang sangat luar biasa. Apalagi bagi para fans Marvel yang ingin film ini terlihat lebih baik dari Batman v Superman: Dawn of Justice garapan DC Entertainment dan Warner Bros.

Rumor tersebut juga mengkonfirmasi istilah 'Accords' yang disebutkan oleh Captain America di ending post-credit Ant-Man sebagai sebuah nama insiden. 

Sinopsis resmi yang telah beredar sebelumnya adalah sebagai berikut: 

"Captain America: Civil War dimulai saat Avengers: Age of Ultron berakhir. Steve Rogers alias si Captain America menjadi pemimpin dari tim baru Avengers sebagai upaya kumpulan superhero ini menjaga perdamaian di Bumi. Setelah terjadi lagi sebuah insiden internasional yang melibatkan superhero Avengers membuat petaka yang tak diinginkan, tekanan politik memuncak untuk membuat sebuah sistem yang mengatur kerja para superhero. Sebuah lembaga juga dibentuk untuk mengatur kapan saja superhero dibutuhkan untuk bekerja. Kondisi status quo baru ini membuat Avengers jadi pincang. Padahal di saat bersamaan mereka juga harus melindungi Bumi dari ancaman penjahat baru."

Captain America: Civil War berpusat pada pertikaian antara Captain America dan Iron Man karena adanya insiden berdarah dan masalah registrasi manusia super. Keduanya pun membentuk kubu masing-masing demi membuktikan siapa yang benar.

Filmnya akan membawa kembali Chris Evans sebagai Captain America, Robert Downey Jr. sebagai Iron Man, Scarlett Johansson sebagai Black Widow, dan Sebastian Stan sebagai Winter Soldier. Captain America: Civil War bakal tiba di AS pada 6 Mei 2016 mendatang. (Rul/Ade)

Sumber : showbiz.liputan6.com

"AADC? 2", Menguji Kisah Cinta dan Rangga

Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra, saat konferensi pers di Jakarta, Senin (25/4/2016).
Sekuel film Ada Apa dengan Cinta? 2 akan menguji kisah asmara Cinta (Dian Sastrowardoyo dan Rangga (Nicholas Saputra) yang sempat terpisahkan oleh jarak selama 14 tahun.

Disutradarai oleh Riri Riza, AADC?? 2 akan menjawab rasa penasaran akan kelanjutan hubungan asmara Cinta dan Rangga.

Cerita film ini diawali dengan pertemuan kembali Geng Cinta di sebuah tempat di Jakarta untuk bereuni.

Cinta, Maura (Titi Kamal), Milly (Sissy Priscillia), dan Karmen (Adinia Wirasti) memutuskan memilih Yogyakarta sebagai tempat tujuan berlibur bersama. Sayangnya, kali ini tidak ada lagi Alya (Ladya Cheryl).

Di tempat terpisah, Rangga yang tengah berada di New York, Amerika Serikat (AS), memutuskan untuk kembali ke Indonesia.

Bekerja serabutan di AS, Rangga bertujuan ke Indonesia untuk memperbaiki hubungannya dengan sang ibu.

Ketika transit di Jakarta, Rangga mencoba berkunjung ke kediaman Cinta. Namun, Cinta sudah tidak tinggal di tempat tersebut. Rangga pun langsung pergi ke Yogyakarta, tempat sang ibu berada.

Singkat cerita, Rangga dan Cinta akhirnya bertemu berkat campur tangan dari ketiga sahabatnya yang tidak sengaja melihat Rangga di Yogyakarta.

Alasan Milly, Maura, dan Karmen sederhana saja. Mereka hanya ingin Cinta mendapatkan jawaban dari Rangga.

Selama pertemuan itu, Cinta langsung meluapkan amarahnya kepada Rangga. Setelah dijelaskan duduk permasalahannya oleh Rangga, Cinta luluh dan memilih berdamai dengan Rangga.

Dalam satu hari itu, Cinta dan Rangga berkeliling dan menjelajahi berbagai destinasi Kota Yogyakarta hanya untuk melepas kangen dan berbagi cerita setelah berpisah selama 14 tahun.

Apakah pertemuan Rangga dan Cinta itu akan mempersatukan keduanya? Atau malah akan menjadi memori perpisahan untuk selama-lamanya?

Produser dan penulis skenario Mira Lesmana terlihat cukup apik mengemas kisah Rangga dan Cinta.

Sejak film pertama dirilis pada 2002 lalu, sifat dari kedua karakter utama tersebut tetap dipertahankan. Tentu saja setelah 14 tahun mereka telah menjadi pribadi yang dewasa.

Di luar romansa Cinta dan Rangga, lelucon-lelucon Geng Cinta membuat film berdurasi 1 jam 52 menit itu lebih hidup.

Film Ada Apa dengan Cinta? 2 diputar serentak di seluruh Indonesia mulai Kamis (28/4/2016).

Sumber : kompas.com

Senin, 30 November 2015

Teknologi Li-Fi Gunakan Bohlam Sebagai Router, Terbukti 100 Kali Lebih Cepat dari Wi-Fi

Memancarkan data lewat cahaya, dengan kecepatan transfer mencapai 1 Gbps

li-fi
Beberapa tahun silam, kita mungkin masih asing dengan istilah Wi-Fi. Tapi lanjut ke tahun 2015 ini, Wi-Fi tampaknya sudah bisa dianggap sebagai salah satu dari sembilan bahan pokok untuk sebagian besar orang. Lalu pertanyaannya, apakah kita bakal selamanya bergantung dengan Wi-Fi?

Minggu, 29 November 2015

Axioo Rilis Dua Smartphone Android Lollipop Berbekal RAM 3GB

Axioo Venge dan Venge X dibekali layar masing-masing 5 inci dan 5,5 inci serta RAM 3GB



Lama tak menggebrak pasar mobile, Axioo kemarin, Kamis (26/11/2015) kembali memanaskan persaingan perangkat smartphone tanah air dengan meluncurkan dua punggawa baru berupa smartphone 5 inci dan 5,5 inci bernama Venge dan Venge X.

Di peluncuran kali ini Axioo tampaknya tak ingin biasa, oleh karena itu mereka sengaja membenamkan RAM berukuran 3GB untuk kedua jagoan barunya ini. Sebuah ukuran RAM yang hanya dapat ditemukan di perangkat flagship buatan brand ternama. Bagaimana dengan spesifikasi lainnya? Berikut ulasan selengkapnya

Axioo Venge

Di bagian terpenting, yaitu layar, Axioo Venge mencoba memberikan kesan pertama terbaik dengan menampilkan layar berpenampang 5 inci yang terbangun dari teknologi IPS HD. Tak hanya tajam, layar jenis ini juga memberi kenyamanan ketika harus mengakses berbagai navigasi di segala kondisi.


  
Tak jauh dari layar ada kamera depan yang dimotori oleh sensor 2MP, tak istimewa tapi cukup baik untuk memotret pose selfie yang sedang digrandungi. Kamera depan ini ditemani oleh kamera utama yang terletak di belakang yang mempunyai resolusi 8MP dengan AF dan aperture f/2.2.

Yang cukup melegakan, walau bersifat relatif, varian ini juga sudah dibekali dengan prosesor quad-core MT6735P yang berkecepatan 1.0GHz ditemani grafis Mali-T720MP, RAM 3GB dan memori internal 16GB. Perangkat juga sudah dilengkapi dengan OS yang cukup baru, Android 5.1 Lollipop, kemudian disokong baterai berkapasitas 2.100mAh.

Axioo Venge X 

Axioo Venge X mempunyai spesifikasi yang sedikit di atas Venge, layarnya lebih lebar di 5,5 inci dan resolusi 1280 x 720 piksel. Jeroannya juga lebih gahar, yakni MT6753 dengan prosesor 64-bit octa core 1.5GHz ARM Cortex-A53 dan grafis dari ARM Mali-T720MP GPU.

Kemudian di sektor kamera, Venge X menggunakan kamera 13MP dengan AF ditemani oleh kamera depan 5MP untuk keperluan selfie. Sama seperti sang adik, Venge X juga sudah dibekali oleh teknologi 4G dan Android 5.1 Lollipop.

Harga dan Ketersediaan 

Dikutip dari TeknoKompas, Axioo Venge dan Venge X mulai dipasarkan pada bulan Desember mendatang dengan harga masing-masing 2,2 juta dan 3,3 juta.

Sumber berita Axioo.







Film Everest, Penaklukkan Puncak Tertinggi Berujung Tragedi

Berdasarkan kisah nyata di tahun 1996, film Everest tuturkan salah satu tragedi terbesar pendakian puncak tertinggi di dunia.




Siapa yang tak akan takjub bisa melihat dari dekat bahkan menginjak puncak gunung tertinggi di bumi, Everest, di pegunungan Himalaya. Gunung Everest telah lama menjadi obsesi dari para pendaki gunung di seluruh dunia, baik yang profesional maupun amatir. Bukan hanya karena statusnya yang teratas—berada di 8.848 meter di atas permukaan laut, tetapi juga karena beratnya tantangan yang harus dihadapi untuk mencapainya. Terkadang, tantangan itu harus dibayar dengan nyawa.

Pada tahun 1996, terjadi sebuah tragedi yang disebut sebagai bencana terbesar yang pernah terjadi dalam sejarah pendakian Everest. Pada tanggal 10 Mei 1996, beberapa kelompok pendaki diterjang badai dahsyat, hingga akhirnya menelan total 12 korban jiwa. Peristiwa ini kemudian mendorong Universal Pictures untuk mengangkatnya dalam sebuah film drama bertajuk Everest, di bawah arahan sutradara asal Islandia, Baltasar Komákur (2 Guns, Contraband). 

Film Everest menyoroti seorang pendaki profesional asal Selandia Baru, Rob Hall (Jason Clarke), yang menjadi pemandu utama sebuah ekspedisi ke puncak Everest pada tahun 1996 di bawah bendera Adventure Consultans. Tidak semua peserta adalah pendaki profesional, tetapi semuanya punya tekad yang sama untuk mencapai puncak dengan segala risikonya. Setelah berlatih membiasakan diri dengan iklim pegunungan tinggi selama satu bulan lebih, akhirnya tim ekspedisi ini siap menaklukkan puncak Everest pada tanggal 10 Mei.

Hari itu rupanya dianggap sangat baik untuk mendaki, sehingga ada begitu banyak rombongan yang hendak mencapai puncak di saat yang sama. Rob akhirnya bekerja sama dengan pemimpin tim ekspedisi kecil asal AS, Scott Fischer (Jake Gyllenhaal), untuk memperlancar perjalanan. Namun, kekuatan alam yang tiba-tiba datang rupanya melebihi dugaan dan kekuatan mereka.

Berangkat dari peristiwa nyata, kisah film Everest digulirkan dengan karakter dan cerita yang terjadi pada tahun 1996 tersebut, dalam hal ini fokusnya pada rombongan Adventure Consultans. Penulis skenario William Nicholson dan Simon Beaufoy kemudian menyusun cerita berdasarkan buku Into Thin Air karya Jon Krakauer, Left for Dead karya Beck Weathers, serta transkrip dari percakapan radio yang terjadi pada saat itu. Ditambah lagi, pihak produksi juga mengontak keluarga para korban, serta berkonsultasi dengan tim film dokumenter dari IMAX yang juga ada di lokasi saat kejadian itu.
Jason Clarke (Pemeran Rob Hall) saat berada di Basecamp Everest

Pihak pembuat film menyadari bahwa ada banyak versi dari peristiwa ini, yang mungkin akan bias satu dengan yang lain. Namun, akhirnya sutradara Komákur memutuskan untuk menyajikan film ini sebagai penghormatan kepada semua korban, dengan menuturkan cerita yang berimbang dan tidak menyalahkan ataupun membenarkan keputusan para pendaki saat itu.

"Saya ingin membuatnya seotentik mungkin. Untuk membawa penonton ke sebuah ekspedisi ke Everest dan memperlihatkan gunung tersebut dengan cara yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan...di saat yang sama menciptakan keintiman antarkarekter yang jarang dilakukan di film-film studio besar," ungkap Komákur.

"Everest adalah perumpamaan terhadap ambisi dalam bentuk apa pun, dan setiap orang yang punya ambisi perlu menyeimbangkannya dengan kehidupan keluarganya. Ada gunung ini, dan ada rumah, dan jarak antara keduanya sangat nyata, yang menarik ke dua arah berlawanan," tambahnya.

Syuting film Everest sendiri dimulai pada Januari 2014 di Kathmandu, Nepal, yang merupakan gerbang pertama setiap pendaki yang hendak ke Everest. Tim produksi dan pemain kemudian berlanjut ke base camp utama pendakian Everest yang berada di 5.380 meter di atas permukaan laut. Sementara, sebagian besar adegan pendakiannya dilakukan di Val Senales di pegunungan Tyrol yang terletak di Italia bagian Utara, juga di studio Cinecittá di Roma dan studio Pinewood di London, Inggris.

Di luar pesona gunung Everest yang telah mendunia, film ini juga mengundang aktor dan aktris terkenal untuk bermain di dalamnya. Selain Jason Clarke (yang baru saja membintangi Terminator: Genisys), film ini juga didukung oleh Josh Brolin, Sam Worthington, Jake Gyllenhaal, Keira Knightley, John Hawkes, Martin Henderson, Emily Watson, Elizabeth Debicki, hingga Robin Wright.Komákur mengatakan bahwa ia memerlukan para pemain yang tepat dan berdedikasi, mengingat proses syuting film ini yang sangat menantang.

Penggalan adegan Everest

"Saya butuh deretan pemain untuk menghadapi hal-hal itu dan mengatasi rasa takut mereka...Untuk syuting di kaki gunung Everest di dataran tinggi kami harus mendaki sendiri. Syuting dalam suhu minus 30 derajat Celsius di Val Senales juga memakan waktu 12 sampai 14 jam sehari selama enam pekan. Membangun freezer raksasa di studio sehingga kita bisa menyiram salju asli ke para pemain. Itu hanyalah sebagian dari apa yang kami perbuat agar hasilnya maksimal. Ketika kami merasa tak sanggup, kami hanya perlu ingat kembali tokoh-tokoh aslinya dan segala yang telah mereka alami di kenyataan saat itu," papar Komákur.

sumber :http://www.muvila.com